
HARMONISULTRA.COM., BUTON UTARA – Memasuki hari ketiga pencarian, Selasa (24/3/2026), keberadaan Kardin (37), warga Desa Banu-banua Jaya yang hilang di perairan Ereke, masih menjadi teka-teki besar.
Meski tim SAR gabungan telah mengerahkan alutsista mutakhir mulai dari drone hingga pendeteksi bawah air, laut Buton Utara belum juga memberikan jawaban.
Insiden yang menimpa Kardin bukanlah kecelakaan laut biasa. Rentetan peristiwa dimulai pada Sabtu (21/3), saat cuaca ekstrem memaksa korban berlindung di Teluk Kulisusu dalam perjalanannya menuju Desa Tanah Merah.
Drama sempat terjadi ketika perahu milik korban hanyut terbawa arus. Kardin dilaporkan sempat berenang mengejar perahunya sebelum akhirnya diselamatkan oleh nelayan lain. Namun, titik balik yang tragis terjadi saat perjalanan pulang menuju Desa Banu-banua Jaya sekitar pukul 18.30 WITA.
”Korban dilaporkan tiba-tiba melompat dari atas longboat pada koordinat 4^\circ 49.298′ S – 123^\circ 7.682′ E. Rekan korban sempat berupaya mencari secara mandiri, namun korban menghilang ditelan kegelapan malam,” tulis laporan resmi yang diterima media ini.
Kepala KPP Kendari, Amiruddin A.S., menyatakan bahwa pencarian hari ketiga telah dilakukan secara maksimal sejak pagi hingga pukul 17.00 WITA. Mengingat medan yang luas dan faktor ketidakpastian arus, tim menggunakan pendekatan teknologi untuk meminimalisir human error:
- Aquaeye, fungsi dalam operasi sebagai sensor pendeteksi objek di bawah permukaan air secara real-time.
- Drone fungsi dalam operasi melakukan pemantauan visual dari udara untuk menjangkau area yang sulit dimasuki kapal.
- Starlink, memastikan koordinasi tim tetap solid melalui koneksi internet satelit stabil di tengah laut.
- RIB & Rubberboat berfungsi armada utama untuk manuver penyisiran di titik koordinat duga.
Pencarian ini tidak dilakukan sendirian. Sinergi lintas instansi melibatkan Staf Ops KPP Kendari, Pos SAR Wakatobi, Polair, Syahbandar, BPBD Buton Utara, Babinsa, hingga solidaritas warga lokal dan pihak keluarga yang turut berjaga di pesisir.
Meski ketinggian gelombang terpantau relatif tenang di kisaran 0,25 hingga 0,5 meter dengan kondisi langit berawan, faktor arus bawah laut dan luasnya area penyisiran tetap menjadi kendala utama.
”Upaya penyisiran telah dilakukan secara intensif, namun hingga sore ini hasil masih nihil,” ujar Amiruddin. Mengingat jarak pandang yang terbatas, operasi terpaksa dihentikan sementara demi keselamatan personil.
Operasi SAR dijadwalkan kembali dibuka pada Rabu (25/3) pukul 07.00 WITA. Fokus pencarian akan diperluas mengikuti arah arus laut dengan harapan menemukan tanda-tanda keberadaan korban.







Komentar